AKSARA JAWA LENGKAP: 3 Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan

Budaya indonesia sangatlah beraneka ragam ya readers, mulai dari bahasa, suku , kepercayaan dan masih banyak lagi. Salah satu pulau yang ada di Indonesia adalah pulau jawa yang memiliki kekayaan seni berupa aksara jawa. Berikut penjelasan lengkap tentang aksara jawa dan pasangannya.

Tentang Aksara Jawa

Aksara jawa ( Hanacaraka, dan secara resmi dikenal sebagai Déntawyanjana dan Carakan) adalah aksara tradisional Nusantara yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa dan sejumlah bahasa daerah Indonesia lainnya seperti Pulau Jawa, Makasar, Sunda, Melayu, dan Sasa . Tulisan tradisional ini ternyata berkerabat dekat dengan aksara Bali. Aksara Jawa adalah turunan dari jenis aksara Brahmi yang sangat populer di pulau jawa saat itu dan merupakan gabungan dari aksara Abugida dan juga aksara Kawi , mengapa demikian ? Sebab berdasarkan struktur dari tiap-tiap huruf, setidaknya mewakili dua buah dari abjad aksara di dalam bentuk huruf latinnya. Tulisan jawa ini berkembang sekitar abad 13-an nih readers , Namun mulai memudar ketika koloni Belanda memperkenalkan huruf latin kepada penduduk pribumi.

Dalam pelafalannya terdapat 34 aksara konsonan dan 11 aksara suara (vokal) dalam aksara Jawa (di luar aksara tambahan), namun sebagai catatan bahwa tidak semuanya digunakan dalam penulisan modern. Tabel berikut menunjukkan aksara Jawa dengan bunyi aslinya yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa Kuno dan Sanskerta dalam sistem IAST:

Tabel Aksara Jawa Kuno dan Sansekerta

aksara jawa
Tabel Aksara Jawa

Catatan:

  • Ḍa dan ṭa lebih umum ditulis dha dan tha. Penulisan ini digunakan untuk membedakan dha /ɖa/ dan tha /ʈa/ retrofleks dalam bahasa Jawa modern dengan dha /d̪ha/ dan /t̪ha/ teraspirasi dalam bahasa Jawa kuno.
  • Sebenarnya konsonan alveolar, tetapi diklasifikasikan sebagai dental (gigi).
  • Dapat dibaca tanpa bunyi /h/, misalnya (/ɔnɔ/, transliterasi: ana, arti: ada). Hanya berlaku dalam penulisan bahasa Jawa.
  • Ṅa digunakan untuk menulis /ŋa/ dalam bahasa Sanskerta, sementara nga dalam bahasa Jawa.
  • Ña digunakan untuk menulis /ɲa/ dalam bahasa Sanskerta, sementara nya dalam bahasa Jawa.
  • Ṛ dan ṝ digunakan untuk menulis bahasa Sanskerta. Dalam bahasa Jawa, hanya re yang digunakan.
  • Ḷ dan ḹ digunakan untuk menulis bahasa Sanskerta. Dalam bahasa Jawa, hanya le yang digunakan.

Makna Aksara Jawa

By The Way nih readers , ternyata menyebutkan aksara jawa itu tak sembarang ya , karena di setiap lafaz memiliki makna nah adapun makna dari aksara Jawa adalah sebagai berikut:

  • Ha adalah hana hurup wening suci yang arti dalam bahasa Indonesianya adalah adanya hidup merupakan kehendak dari Tuhan yang Maha Suci.
  • Na maknanya adalah Nur Candra atau warsitaning Candara yang artinya adalah pengharapan dari manusia yang selalu mengharapkan sinar dari Ilahi.
  • Ca merupakan cipta weding, cipta dadi, cipta mandulu yang artinya adalah suatu arah serta tujuan dari Sang Maga Tunggal.
  • Ra merupakan rasaingsun handulusih yang maknanya adalah cinta sejati yang muncul dari cinta kasih dalam nurani.
  • Ka merupakan karsaningsun memayuhayuning bawana yang maknanya adalah sebuah hasrat yang diarahkan untuk sebuah kesejahteraan alam.
  • Da merupakan dumadining Dzat kang tanpa winangenan yang artinya adalah menerima kehidupan ini dengan apa adanya.
  • Ta merupakan tatas, tutus, titis, titi lan wibawa yang artinya adalah sesuatu yang mendasar, totalitas, satu visi, ketelitian di dalam memandang sebuah hidup.
  • Sa merupakan suram ingsun handulu sifatullah yang artinya adalah pembentukan kasih sayang sebagaimana kasihnya Tuhan.
  • Wa merupakan wujud hana tan kena kinira yang artinya adalah ilmu manusia yang hanya terbatas akan tetapi untuk implementasinya sangat tidak terbatas.
  • La merupakan lir handaya paseban jati yang artinya adalah menjalankan hidup semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan dari Tuhan.
  • Pa merupakan papan kang tanpa kiblat yang artinya adalah hakihat Tuhan yang sejatinya ada tanpa arah.
  • Dha merupakan duwur wekasane endek wiwitane yang artinya adalah untuk bisa mencapai puncak harus dimulai dari dasarnya atau dari bawah terlebih dahulu .
  • Ja merupakan jumbuhing kawula lan gusti yang artinya adalah senantiasa berusaha untuk mendekati Tuhan dan memahami kehendak Tuhan.
  • Ya merupakan yakin marang sembarang tumindak kang dumadi yang maknanya adalah yakin terhadap ketetapan dan kudrat Ilahi.
  • Nya merupakan nyata tanpa mata, ngerti tanpa diuruki yang artinya adalah memahami sunnatullah atau kodrat dari kehidupan ini.
  • Ma merupakan madep mantep manembah maring Ilahi yang artinya adalah mantap di dalam menyembah Tuhan.
  • Ga merupakan guru sejati sing muruki yang artinya adalah pembelajaran kepada guru nurani.
  • Ba merupakan bayu sejati kang andalani yang artinya adalah menyelaraskan diri kepada gerak gerik dari alam.
  • Tha merupakan tukul saka niat yang artinya adalah segala sesuatu harus tumbuh dan diawali dengan niat.
  • Nga merupakan ngracut busananing manungso yang artinya adalah melepas ego pribadi pada manusia.

Bagian-bagian Aksara Jawa

Aksara Carakan

aksara jawa carakan

Aksara Carakan adalah aksara yang paling dasar untuk mempelajari aksara Jawa. aksara ini berguna untuk menuliskan kata-kata. Yang perlu readers ketahui adalah bahwasanya bentuk masing-masing dari aksara Carakan ini memiliki bentuk beserta pasangannya loh. Nah guna dari aksara pasangan itu sendiri adalah sebagai mematikan atau menghilangkan bentuk vokal dari aksara yang sebelumnya. Masih bingung maksudnya gimana ? langsung aja ya kita lihat contohnya di bawah ini :

Pasangan Aksara Carakan

Dalam pasangan aksara Carakan ini terbagi menjadi beberapa huruf yang saat ini dikenal sebagai Hanacaraka.

hanacaraka

Aksara pasangan ini biasanya akan digunakan untuk menulis bentuk suku kata yang di dalamnya tidak ada vokal ya readers . Contoh Penggunaan Pasangan Aksara Jawa.

contoh penulisan aksara jawa

Aksara Swara

aksara swara

Aksara swara yakni jenis aksara yang digunakan untuk menuliskan jenis huruf vokal yang berasal dari bentuk kata serapan dari bahasa asing supaya pelafalannya menjadi lebih tegas dan jelas.

Sandhangan Aksara Swara

swara

Sandangan adalah bentuk huruf vokal yang tidak mandiri dan digunakan ketika berada di bagian tengah dari kata. lalu di dalam sandangan akan dibedakan berdasar pada cara membacanya.

Untuk aksara Swara ini juga tidak sama dengan jenis aksara-aksara yang lain nih . Ia juga dilengkapi dengan pasangan. Aksara Swara juga memiliki beberapa aturan penulisan yang penting untuk diperhatikan. Berikut rinciannya:

  • Aksara Swara tidak bisa dijadikan sebagai bentuk aksara pasangan.
  • Apabila aksara Swara menemukan sigegan atau konsonan yang ada pada akhir suku kata yang sebelumnya, maka sigegan itu harus dimatikan dengan yang namanya pangkon.
  • Aksara Swara bisa diberikan suatu sandangan wignyan, cecak, wulu, suku, dan lain sebagainya.

Aksara Rekan

aksara rekan

Aksara rekan adalah aksara yang dalam ini banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab , mengapa demikian ? sebab berbagai bentuk dari huruf yang tersedia dalam hanacaraka tidak bisa memenuhi keperluan penulisan dalam menulis sejumlah kata yang asalnya dari Negara lain nih readers . maka dari itu di buatlah aksara rekan . nah aksara Rekan sendiri merupakan jenis aksara yang bisa dipakai untuk penulisan huruf serapan yang asalnya adalah dari bahasa Arab. Misalnya saja huruf f, kh, dz dan lainnya.Aksara jenis ini dipakai untuk menuliskan konsonan yang terdapat pada kata-kata asing yang masih sesuai dengan bentuk aslinya.
Aksara Rekan terdapat dalam lima bentuk. Dan kesemuanya memiliki pasangan masing-masing ya . Adapun untuk aturan penulisannya juga berbeda dengan yang lain. Berikut penjelasannya

  • Tidak seluruh aksara Rekan yang ada memiliki pasangan. Pasangan dalam aksara ini hanyalah Fa dan yang lainnya tidak punya.
  • Aksara Rekan sejatinya dalam praktiknya bisa diberikan pasangan.
  • Aksara Rekan juga bisa diberikan sandhangan seperti aksara-aksara lain di dalam Hanacaraka.

Contoh Aksara Rekan

contoh aksara rekan

Aksara Murda

murda

Aksara Murda sejenis dengan huruf kapital di dalam jenis aksara Jawa. Aksara Murda ini secara khusus dipakai untuk menulis jenis huruf depan suatu nama orang, nama tempat, atau kata-kata lain yang awalnya memakai huruf kapital. Selain itu juga aksara murda kerap dipakai di awal sebuah kalimat atau awal sebuah paragraf.

Kegunaan utama dari aksara ini adalah untuk menuliskan nama gelar, nama orang, nama geografi, nama lembaga pemerintahan, serta nama lembaga yang berbadan , sebab kata-kata tersebut jika di dalam bahasa Indonesianya menggunakan huruf besar, maka dalam bahasa Jawa menggunakan aksara khusus yang dikenal dengan aksara Murda ini.

Contoh Aksara Murda

contoh murda

Untuk aturan penulisannya sendiri, aksara Murda ini sebenarnya hampir mirip dengan penulisan aksara pokok di dalam Carakan. Namun ada beberapa aturan tambahan dalam aksara ini , seperti :

  • Aksara Murda tidak bisa dijadikan sebagai sigeg atau yang biasa dikenal dengan konsonen penutup untuk jenis suku kata.
  • Apabila ditemui bentuk aksara Murda yang menjadi sigeg, maka harus dituliskan bentuk aksara pokoknya.
  • Jika di dalam satu suku kata atau kalimat terdapat lebih dari satu bentuk aksara Murda, maka terdapat dua aturan yang bisa dipakai. Yaitu dengan mencantumkan aksara murda untuk yang terdepan saja atau dengan menuliskan semua aksara Murda yang ditemui.

Aksara Wilangan

wilangan

Aksara wilangan atau yang biasa dikenal dengan bilangan ini merupakan sebuah aksara yang dipakai untuk menulis jenis angka di dalam aksara Jawa.Angka sendiri digunakan untuk menyatakan suatu lambang bilangan atau nomor. Angka di sini bisa berjenis ukuran, luas, berat, panjang, nilai uang, satuan waktu dan lain sebagainya. Berbagai jenis kuantitas penulisan angka ini dilakukan dengan mengapitkan tanda yang ada pada pangkat pada bagian awal serta akhir dari penulisan angka.Untuk penulisan satuan di dalam sebuah bilangan, satuan tersebut bisa ditulis di dalam bentuk kata lengkapnya. Misalnya saja kilometer, meter, kilogram dan lain sebagainya.

Tanda Baca Aksara Jawa

Tanda baca atau biasa dikenal pratandha dalam aksara Jawa sangat dibutuhkan untuk penulisan aksara Jawa. Nah Aksara Jawa sendiri juga memiliki beberapa macam bunyi yang berbeda saat diucapkan ya readers . Hal itu tergantung pada masing-masing kata yang ditulis memakai aksara tersebut.

Di dalam hanacaraka sendiri, ada beberapa tanda baca di dalam penulisan aksara tersebut. Di dalam perangkat lunak, ada empat buah tanda baca yang perlu diketahui.

  • Pada Adeg – adeg digunakan pada bagian depan kalimat di masing-masing alineanya.
  • Berikutnya pada adeg yang digunakan untuk menandakan bagian yang tertentu pada sebuah teks yang perlu untuk diperhatikan, untuk hal ini hampir sama dengan jenis tanda baca kurung.
  • Adapun pada lingsa sendiri digunakan di akhir bagian kalimat sebagai sebuah tanda intonasi yang masih setengah selesai. Tanda ini setara atau sesuai dengan tanda koma.
  • Selanjutnya adalah pada lungsi yang digunakan pada akhir sebuah kalimat. Tanda baca satu ini sangat setara dengan tanda titik.
  • Pada Pangkat ini memiliki beberapa fungsi di dalamnya. DI antaranya adalah untuk akhir pernyataan lengkap apabila diikuti dengan beberapa jenis rangkaian. Selain itu juga digunakan untuk pangkat yang mengapit suatu petikan langsung.

Tiga Kesalahan dalam Penulisan Aksara Jawa

Kesalahan Penulisan Pasangan

Kesalahan penulisan pasangan terjadi karena belum memahami letak huruf pasangan yang tepat. Sehingga terjadi kesalahan dalam penullisan hingga bunyinya.

Kesalahan Penulisan Sandhangan

Kesalahan penulisan sandhangan terjadi karena banyakorang yang belum sepnuhnya dapat membedakan antara swara dan sandhangan. Selain itu, sandhangan biasnya ditulisa ditengah kata, sehingga tidak mudah dalam menempatkannya.

Kesalahan Penulisan Tanda Baca

Kesalahan penulisan tanda baca dalam aksara jawa sering terjadi, karena kurangnya pemahaman mengenai fungsi dan letaknya. Sehingga terjadi banyak kekeliruan dalam penulisan taksara jawa.